Kamis, 15 Juni 2017

Makalah Biologi Perikanan

KOMPETISI

Oleh :


Putri Maria Yosefa Sibarani
150302050
III / B
















BIOLOGI PERIKANAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kompetisi“. Makalah ini sebagai salah satu pemenuhan tugas mata kuliah Biologi Perikanan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab mata kuliah Biologi Perikanan Ibu Dr. Ani Suryanti, S.Pi, M.Si, Ibu Desrita S.Pi, M.Si dan Bapak Indra Lesmana S.Pi, M.Si yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini.
Demikian penulis menyatakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Sekian dan terima kasih.



                                                                                       Medan,  Juni 2017


                                                                                                  Penulis


                                                                                           




DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR................................................................................................................             i
DAFTAR  ISI ............................................................................................................................            ii
Bab I. PENDAHULUAN
Latar belakang...................................................................................................................             1
Tujuan Penulisan...............................................................................................................             2
Manfaat Penulisan.............................................................................................................             2
Bab II. Isi...................................................................................................................................             3
         
Bab III. PENUTUP
          Kesimpulan.......................................................................................................................            5
          Saran.................................................................................................................................             5
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN















BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya. Dengan model matematika para ilmuwan juga dapat memprediksi kestabilan interaksi kedua spesies. Kestabilan yang dimaksud adalah jumlah populasi tidak habis sehingga interaksi tetap ada (Suzyanna, 2013).
            Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.504 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km dengan luas perairan laut sekitar 5,8 juta km2 (75% dari wilayah Indonesia), membentang pada garis khatulistiwa, menyebabkan Indonesia mempunyai sumberdaya hayati yang sangat kaya dan beragam baik untuk wilayah darat maupun laut, sehingga dikenal sebagai negara  mega biodiversity. Kekayaan hayati tersebut perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia (Karnila, 2011).
Air merupakan suatu senyawa yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup, baik itu sebagai kebutuhan untuk metabolisme tubuh ataupun sebagai habitat. Berdasarkan salinitasnya air secara garis besar dibedakan menjadi tiga, yaitu air tawar, air payau, dan air asin (air laut). Sebagian besar mahluk hidup terutama yang habitatnya di daratan sangat tergantung pada air tawar, sebagai contoh yang paling nyata adalah manusia. Air yang mengalami siklus hidrologi tertampung di alam suatu wadah (badan air) berfungsi sebagai tempat air permukaan berkumpul yang akhirnya membentuk suatu peraturan. Perairan yang berisi air tawar kita temukan di bagian permukaan bumi yang berupa daratan. Perairan ini kita kenal istilah perairan umum. Walaupun ada pengertian yang menyatakan bahwa perairan umum juga termasuk di dalamnya adalah laut. Namun, ada juga yang mengistilahkan perairan yang terdapat di daratan sebagai perairan pedalaman, hanya saja masih sedikit orang yang menggunakannya. Perairan umum adalah bagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi air, baik air tawar, air payau maupun air laut, mulai garis pasang surut laut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami atau buatan (Lasabuda, 2013).
   Organisme hidup di dalam suatu ekosistem yang didalamnya saling berinteraksi antar satu spesies dengan spesies lain. Interaksi tersebut dapat berupa interaksi positif yang saling menguntungkan dapat juga interaksi negatif seperti kompetisi. Kompetisi  tumbuhan dalam suatu spesies mampu di liat pada jarak antar tumbuhan, di mana sebenarnya persaingan yang paling keras terjadi antara tumbuhan yang sama spesiesnya, sehingga tegakan besar dari sepesies tunggal sangat jarang di temukan di alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini mempengaruhi pertumbuhannya karena pada umumnya bersifat merugikan (Novanistati, 2001).
Tujuan Penulisan
            Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.        Untuk mengetahui pengertian kompetisi
2.        Untuk mengetahui pembagian kompetisi
3.        Untuk mengetahui jenis – jenis kompetisi
Manfaat Penulisan
            Manfaat penulisan ini adalah sebagai sumber informasi mengenai kompetisi yang terjadi di perairan bagi pihak yang membutuhkan dan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Biologi Perikanan, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.



BAB II
ISI
            Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi antara individu yang sejenis ataupun antara individu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik. Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan. Setiap organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain – lain (Wirakusumah, 2003).
Kompetisi merupakan interaksi antara dua spesies yang mengakibatkan keduanya mengalami kerugian. Kompetisi dikelompokkan menjadi dua yaitu kompetisi intraspesifik dan interspesifik. Kompetisi intraspesifik yaitu kompetisi yang terjadi antar anggota satu spesies, sedangkan kompetisi interspesifik yaitu kompetisi yang terjadi antar anggota yang berbeda spesies. Beberapa spesies dapat hidup secara berdampingan dalam sebuah komunitas yang sama selama mempunyai kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan ini akan terpenuhi apabila dalam keadaan sumberdaya melimpah. Ketersediaan sumberdaya yang terbatas akan mengakibatkan persaingan. Spesies yang akan memenangkan persaingan akan dapat bertahan hidup. Persaingan yang terjadi antara lain mencari makan, tempat berlindung dan pasangan kawin (Anendra, 2010).
Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah - ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya. Setiap spesies ikan mempunyai strategi reproduksi yang tersendiri sehingga dapat melakukan reproduksinya dengan sukses. Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari sistem reproduksi. Sistem reproduksi terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, dimana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya (Rahardjo dkk., 2010).
            Di daerah tropis jumlah predator dan parasit lebih banyak lebih banyak dari pada di daerah sub tropis, sehingga musuh alami tersebut sangat berperan dalam ikut menurunkan jumlah kompetisi komposisi interspesifik diantara populasi mangsa. Dengam menurunnya kompetisi, maka hal tersebut dapat mendorong penambahan spesies mangsa baru karena diantara spesies mangsa tersebut terjadi koeksistensi. Selain itu, penambahan predator baru kedalam sistem tersebut semakin menambah tingkat keanekaragaman komunitas di daerah tropis (Abdurrahman, 2008).
            Ketersediaan sumberdaya makanan juga berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan lainnya seperti suhu, dalam mempengaruhi pertumbuhan ikan secara musimam. Sebagai contoh, pertumbuhan (penambahan panjang) populasi ikan Lepomis macrochirus pada musim yang berbeda, pertumbuhan ikan yang cepat selama persediaan makanan melimpah. Tingkat pertumbuhan yang cepat ketika makanan melimpah dimungkinkan karena peningkatan suhu perairan. Di daerah tropik makanan merupakan faktor yang lebih penting dari pada suhu perairan. Bila keadaan faktor-faktor lain normal, ikan dengan makanan berlebih akan tumbuh lebih pesat. Untuk ikan satu keturunan yang sukses dari satu pemijahan, pertamatama memerlukan makanan yang berukuran sama. Anak ikan yang lemah dan tidak berhasil mendapatkan makanan akan mati sedangkan yang kuat terus mencari makanan dan pertumbuhannya baik. Jumlah individu yang terlalu banyak dalam perairan yang tidak sebanding dengan keadaan makanan akan terjadi kompetisi terhadap makanan itu. Keberhasilan mendapatkan makanan akan menentukan pertumbuhan (Wahyuningsih dan Barus, 2006).
            Kompetisi intraspesifik merupakan kompetisi yang muncul apabila jumlah pakan yang diberikan tidak mencukupi ataupun faktor kondisi yang sudah tidak mendukung. Adanya penurunan pertumbuhan larva dalam padat tebar yang tinggi mengakibatkan kompetisi dalam perebutan makanan pun menjadi semakin tinggi. Ikan yang lemah atau berukuran kecil pasti akan kalah saing dengan ikan yang lebih kuat dan berukuran lebih besar (Priyadi dkk., 2010).

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1.         Kompetisi merupakan interaksi antara dua spesies yang dilakukan untuk memperoleh suatu kebutuhan yang sama akan sumberdaya yang bersifat terbatas sehingga mengakibatkan keduanya mengalami kerugian.
2.         Kompetisi dibagi menjadi dua, yaitu kompetisi intraspesifik, merupakan kompetisi yang terjadi antara spesies yang sama dan kompetisi interspesifik, yaitu kompetisi yamg terjadi antara spesies yang berbeda.
3.         Jenis -  jenis kompetisi yaitu, memperebutkan wilayah kekuasaan, perebutan pakan, pasangan untuk memijah dan lain sebagainya.
Saran
Saran untuk penulisan makalah ini adalah agar penulis lebih memahami materi yang akan dibahas agar penulisan dapat dilakukan dengan baik dan mudah untuk dipahami.















DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman. 2008. Studi Keanekaragaman Serangga Pollinator pada Perkebunan Apel Organik dan Anorganik. [Skripsi]. Universitas Islam Negeri, Malang.

Anendra, Y. C. 2010. Aktivitas Apis cerana Mencari Polen, Identifikasi Polen dan Kompetisi Menggunakan Sumber Pakan Apis mellifera.m. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Karnila, Rahman. 2011. Pemanfaatan Komponen Bioaktif Teripang dalam Bidang Kesehatan. Universitas Riau, Riau.

Lasabuda, R. 2013. Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Perspektif Negara Kepulauan Republik Indonesia. Jurnal Ilmiah Platax. Vol. I (2). ISSN: 2302-3589.

Novanistati, Y. 2001. Aspek Biologi Pertumbuhan, Kebiasaan Makanan dan Reproduksi Beberapa Jenis Ikan di Perairan Sekitar Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Priyadi, A., R. Ginanjar, A. Permana dan J. Slembrouck. 2010. Tingkat Densitas Larva Botia (Chromobotia macracanthus) dalam Satuan Volume Air pada Akuarium Sistem Resikulasi. Institute Recherche Pour Le Developpment, Prancis.

Rahardjo, M. F., D. S. Sjafei, R. Affandi dan Sulistino. 2010. Iktiology. Penerbit Lubuk Agung, Bandung.

Suzyanna. 2013. Interaksi Antara Predator - Prey dengan Faktor Pemanen Prey. Journal of Scientific Modeling & Computation. Vol. 1 (1). ISSN 2303 – 0135.

Wahyuningsih, H. dan T. A. Barus. 2006. Buku Ajar Iktiologi. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Wirakusumah, S. 2003. Dasar - Dasar Ekologi bagi Populasi dan Komunitas. UI-Press: Jakarta